Makalah Pengembangan Kurikulum

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  latarbelakang

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa (Sanjaya,2008).

Proses pengembangan kurikulum menurut zais dalam bukunya yang berjudul Curriculum Principles an Foundations (1976), harus dimulai dengan asumsi asumsi filosofis sebagi system nilai (Value System) atau pandangan hidup suatu bangsa. Berdasarkan asas filosofis itulah selanjutnya ditentukan tentang hakikat pengetahuan, sosiokultural, hakikat anaka didik, dan teori-teori belajar. Inilah yang menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum, dengan kata lain landasan pengembangan kurikulum itu meliputi asas filosofis , asas psikologis, dan asas sosial budaya termasuk didalamnya asas teknologis. Manakala telah ditentukan landasan-landasan sebagai fondasi kurikulum, maka ditentukan komponen-komponen kurikulum yang menyangkut baik tujuan umum maupun tujuan khusus, isi atau materi pelajaran kegiatan pembelajaran, dan evaluasi. Pada dasarnya proses pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan keempat komponen tersebut yang dilandasi asas-asas pengembangannya sebagai fondasi. Pengembangan komponen-komponen inilah yang kemudian membentuk sistem kurikulum.

Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan. Kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki komponen-komponen tertentu. Manakala salah satu komponen yang membentuk system kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainnya, maka system kurikulum pun akan terganggu pula. Komponen-komponen serta keterkaitannya sebagai berikut.

Gambar 1. Komponen sistem kurikulum.

Bagan diatas menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oleh 4 komponen yaitu komponen tujuan, isi atau materi kurikulum, metode atau strategi pencapaian tujuan dan komponen evaluasi.

Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulim itu menyangkut semua aspek yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap matapelajaran yang diberikan maupun aktifitas dan kegiatan siswa.

1.2  Rumusan Masalah

Makalah ini akan membahas tentang pengembangan materi kurikulum dengan rumusan masalah, apakah yang harus diajarkan dan dipahami oleh siswa, menyangkut materi atau isi kurikulum agar sesuai dengan tujuan kurikulum?

1.3  Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui kriteria serta materi apa saja yang harus diajarkan dan dipahami oleh siswa sesuai dengan isi atau materi kurikulum sehingga tercapai tujuan kurikulum.

1.4  Manfaat

Adapun manfaat disusunnya makalah ini adalah sebagai tambahan referensi dalam mengembangkan isi kurikulum, selain itu sekiranya makalah ini dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi para calon guru tentang hal-hal atau materi seperti apa saja yang harus diajarkan dan dupahami oleh siswa sesuai dengan tujuan kurikulum.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengembangan Materi Kurikulum

Bahan atau materi kurikulum (Curriculum Materials) adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami siswa dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Bahan atau materi kurikulum yang berhubungan dengan pertanyaan apakah yang harus diajarkan dan dipahami oleh siswa?masalah ini sangat erta kaitannya dengan tujuan pendidikan yang harus dicapai. Materi kurikulum merupakan salah satu komponen dalam pengembangan kurikulum. Bahan atau materi kurikulum sama pentingnya dengan merumuskan kurikulum itu sendiri. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan materi atau isi kurikulum sebagai berikut:

2.1.1 Sumber-sumber Materi Kurikulum

Isi atau materi kurikulum harus bersumber pada tiga hal yakni masyarakat beserta budayanya, siswa, dan ilmu pengetahuan. Dalam menentukan isi kurikulum ketiga sumber tadi harus digunakan secara seimbang, apabila salah satu diantaranya terlalu ditonjolkan maka dapat mempengaruhi makna pendidikan.

  1. a.   Masyarakat sebagai Sumber Kurikulum

Sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup dimasyarakat. Dengan demikian, apa yang dibutuhkan masyarakat harus menjadi bahan perttimbangan dalam menentukan isi kurikulum. Kebutuhan masyarakat yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum meliputi masyarakat dalam lingkungan sekitar (lokal), masyarakat dalam tatanan nasional dan masyarakat global.

Budaya nasional dalam perkembangannya merupakan budaya yang tidak akan pernah berhenti. Perkembangan budaya nasional adalah perkembangan budaya yang terus-menerus yang selamanya ada dalam status “in the making” oleh karenanya materi, kurikulum selamanya harus berubah sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat.

  1. b.   Siswa sebagai Sumber Materi Kurikulum

Tugas dan fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan seluruh potensi siswa, maka tidala heran kalau kebutuhan anak harus menjadi salah satu sumber materi kurikulum. Menurut Crow ada beberapa hal yang harus diperhatikan dal;am perumusan isi kurikulum dikaitkan dengan siswa, yakni:

  • Kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan anak
  • Isi kurikulum sebaiknya mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dapat digunakan siswa dalam pengalamannya sekarang dan juga berguna untuk menghadapi kebutuhannya pada masa yang akan datang.
  • Siswa sebaiknya didorong untuk belajar berkat kegiatannya sendiri dan tidak sekedar penerima secara pasif apa yang diberikan guru.
  • Apa yang dipelajari siswa hendaknya sesuai dengan minat dan keinginan siswa.

Dari peryataan Crow diatas, maka jelas perumusan materi kurikulum tidak bersumber dari pandangan orang dewasa tentang apa yang seharusnya diminati oleh siswa, akan tetapi disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.

  1. c.    Ilmu Pengetahuan sebagai Sumber Kurikulum

Ilmu adalah pengetahuan yang terorganisir secara sistematis dan logis. Dengan demikian semua pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu. Ilmu hanya meujuk pada pengetahuan yang memiliki objek, dan metode tertentu. Bahan atau materi kurikulum dapat bersumber dari ilmu pengetahuan tersebut. Isi kurikulum diambil dari setiap disiplin ilmu . para pengembang kurikulum tidak perlu susah-susah menyusun bahan sendiri, mereka tinggal memilih materi mana yang perlu dikuasai oleh anak didik berdasrkan disiplin ilmu sesuai dengan taraf perkembangan anak didik serta sesuai dengan kepentingannya.

Penentuan disiplin ilmu tiap lembaga pendidikan yang kemudian dalam struktur kurikulum menjadi bidang studi atau matapelajaran, tidak harus sama. Hal ini disebabkan setiap lembaga memiliki visi, misi, dan tujuan yang berbeda. Demikian juga dilihat cakupan dan keluasan serta kedalaman materi atau isi dalam setiap bidang studi.

2.1.2 Tahap Penyelaksian Materi Kurikulum

Tahap penyeleksian materi kurikulum adalah langkah-langkah yang harus dilaksanakan oleh pengembang kurikulum dalam menentukan isi atau muatanh kurikulum. Ada bebarapa tahap dalam menyeleksi bahan atau matei kurikulum, yakni:

  1. Identifikasi Kebutuhan (need assessment)

Sesuai dengan kemajuan dan perkembangan zaman, tujuan kurikulum tidaklah statis melainkan dinamis. Artinya tujuan yang harus dicapai harus senantiasa diperbaharui sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, yang berarti penyusunan bahan kurikulum pun harus mengalami penyesuaian.

  1. Mendapatkan Bahan Kurikulum (Assess The Curriculum Materials)

Proses mendapatkan bahan kurikulum yang sesuai dengan tujuan diperlukan perencanaan yang matang serta motivasi dan keseriusan yang sungguh-sungguh. Hal ini dimaksudkan agar materi atau bahan yang diperlukan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan serta terjamin validitasnya. Dalam era teknologi informasi dewasa ini untuk mendapatkan bahan kurikulum baru dapat dilakukan dengan mudah, misalnya dengan mengkaji berbagai jurnal penelitian, menelaah sumber-sumber literature (buku teks) dan lain sebagainya.

  1. Analisis Bahan (Analyze The Materials)

Analisis bahan diperlukan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Menganalisis bahan atau materi dapat dilakukan dengan melihat informasi tentang bahan yang bersangkutan misalnya dengan melihat nama pengarang, tahun terbit dan penerbit. Disamping itu analisis bahan bisa dilakukan dengan mencermati isi kurikulum itu sendiri, misalnya menguji validitas fakta, konsep, generalisasi atau keterampilan yang ada dalam baha kurikulum itu.

  1. Penilaian Bahan Kurikulum (Appraissal of Curriculum Materials)

Setelah dilakukan analisis keakuratannya maka selanjutnyua diberikan penilaian, apakah bahan itu layak untuk digunakan atau tidak, sesuai dengan tuntutan kurikulum atau tidak. Dalam menentukan keputusan tersebut perlu juga uji scope dan sequence-nya. Apakh tingkat kedalaman. Apakh tingkat kedalaman serta urutan bahan sesuai dengan taraf perkembangan siswa atau tidak, apakah urutannya sesuai dengan kondisi dan situasi disekolah atau tidak.

  1. Membuat Keputusan Mengadopsi Bahan (Make An Adoption Decision)

Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam penyeleksian bahan atau materi kurikulum. Tahap ini meupakan tahap yang palingh penting dan biasanya cukup sulit untuk dilakukan, oleh karena adanya perbedaan pendapat dari para pengembang metari kurikulum. Penentuan ini harus dilakukan secara objektif.

2.2.3 Jenis-jenis Materi Kurikulum

Menurut Hilda Taba (1962), bahan atau materi kurikulum dapat digolongkan menjadi 4 tingkatan, yakni fakta khusus, ide-idepokok, konsep dan sistem berpikir.

Fakta khusus adalah bentuk materi kurikulum yang paling sederhana. Fakta khusus ini biasanya merupakan informasi yang tingkat kegunannya paling rendah. Ide-ide pokok bisa berupa prinsip atau generalisasi. Memahami ide pokok, memungkinkan kita bisa menjelaskan sejumlah gejala spesifik atau sejumlah materi pelajaran.

Konsep menurut Hilda Taba lebih tinggi tingkatannya daripada ide pokok. Memahami konsep berarti memahami sesuatu yang abstrak sehingga mendorong anak untuk berpikir lebih mendalam. Konsep akan muncul dalam berbagai konteks, sehingga pemahaman konsep akan terkait dalam berbagai situasi.

Sistem berpikir, berhubungan dengan kemampuan untuk memcahkan masalah secara empirik, sistematis dan terkontrol yang kemudian dinamakan dengan berpikir ilmiah. Setiap disiplin ilmu memiliki sistem berpikir yang tidak sama. Oleh sebab itu, materi tentang sistem berpikir erat hubungannya dengan struktur keilmuan.

2.2.4 Kriteria Penetapan Materi Kurikulum

Hunkins (1988) mengemukakan ada lima kriteria dalam mengorganisasi isi pelajaran. Pertama, kriteria yang berhubungan dengan ruang lingkup isi pelajaran. Kriteria ini menyangkut keluasan dan kedalaman isi kurikulum sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Kedua, kriteria yang berkaitan dengan keterkaitan atau hubungan antara materi atau isi pelajaran yang satu dengan yang lain. Hal ini dumaksudkan agar pengalaman belajar siswa terjadi secara utuh, belajar dikatakan bermakna apabila terjadi integrasi antara satu pengalaman belajar dengan pengalamn lainnya.

Ketiga, berkaitan dengan urutan isi dan pengalaman belajar secara vertikal. Artinya pengorganisasian pengalaman belajar harus memiliki kesinambungan. Isi pelajaran harus disusun sedemikian rupa, yang semakin lama semakin meluas dan mendalam.

Keempat, isi dan pengalaman belajat harus disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks secara berkesinambungan, sehingga pemahaman dan kemampuan siswa berkembang sampai tuntas. Kelima, yang disebut dengan artikulasi dan keseimbangan. Artikulasi artinya bahwa isi kurikulu harus memiliki keterkaitan, baik keterkaitan antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain, maupun keterkaitan dilihat dari tingkat kesulitan. Keseimbangan artinya bahwa isi kurikulum harus menyangkut berbagai aspek secara seimbang, baik aspek pengembangan intelektual, aspek minat dan bakat siswa maupun aspek keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berangkat dari penjabaran mengenai hal-hal yang yang harus dilakukan maupun keriteria yang harus dipenuhi dalam mengembangkan isi atau materi atau bahan kurikulum maka dapat disimpulkan bahawa, dalam mengembangkan isi atau materi atau bahan kurikulum haruslah sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang terjadi, selain itu perlu diperhatikan sasaran yang dituju, dalam hal ini adalah siswa para pengembang kurikulum harus terlebih dahulu mengetahui kondisi perkembangan dari siswa yang akan diberikan materi.

Dalam mengembangkan materi kurikulum juga perlu diperhatikan kebutuhan siswa serta masyarakat. Output seperti apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Berdasarkan semua alasan itu yang terpenting adalah dalam mengembangkan materi kurikulum haruslah sesuai dengan tujuan kurikulum itu sendiri agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Terlepas dari itu semua metode pembelajaran yang dikelas juga perlu adanya inovasi, untuk apa kurikulum yang inovatif namun metode pembelajaran masih saja tetap klasik, sebab kurikulu dan pembelajaran adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Referensi:

Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Bandung:Kencana, 2008.

Muslich, Masnur. KTSP: Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kotekstual. Jakarta:Bumi Aksara, 2007.

http://blog.tp.ac.id/komponen-komponen-di-dalam-kurikulum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s